Langsung ke konten utama

Pengetahuan yang Mewujud

http://emprorerfaisal.blogspot.co.id/2011/02/syarat-pengetahuan-menjadi-ilmu.html

(Teleologi Persepsi)
oleh: Mahdiya AzZahra
.
In the name of Lord who is a hidden treasure, who love to be known, and who create the creation to be known.
.
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad 
.
Pengetahuan adalah basis fundamental dari terjadinya segala sesuatu. Pengetahuan (ilmu) adalah yang telah disediakan di alam (darinya diperoleh pengetahuan). Manusia diciptakan untuk mengetahui, namun ada tingkatan-tingkatan persepsi dimana ini akan mempengaruhi manusia dalam memperoleh suatu pengetahuan, maupun dalam memahami tujuan. 
.
Manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan manusia akan mencapai pengetahuan tentang Wujud wajib yang hakiki (irfan), pengetahuan tentang spiritual (malakut), dan pengetahuan tentang tanda-tandaNya (ayah). Pengetahuan ini tidak serta merta diperoleh melainkan suatu pencapaian. Pengetahuan ini bisa dicapai ketika kita sampai pada tingkatan yang mampu untuk menerima pengetahuan itu. pengetahuan akal akan mewujud, tanpa mewujud, pengetahuan bersifat lemah, ada namun tidak menjadi basis gerakan substansial (evolusi) manusia. 
.
Berdasarkan pengalamannya Mulla Shadra membagi tingkatan persepsi manusia menjadi 4 tingkatan, dimana persepsi sendiri merupakan suatu proses penciptaan bentuk (wujud mental) dari bentuk yang terdapat di realitas (alam eksternal). Persepsi harus disertai dengan kesadaran jiwa atau kehadiran (hudhuri). Tingkatan persepsi ini adalah:
.
1. Persepsi indrawi, jiwa mempersepsi dengan objek persepsi berupa bentuk-bentuk empiris.
2. Persepsi imajinasi, jiwa memperpsi dengan objek persepsi yang tidak harus ada atau tidak bersifat empiris. 
3. Persepsi intuisi (wahm)
4. Persepsi akal, jiwa mempersepsi dengan objek persepsi yang universal. 
.
Perbedaan keempat tingkatan persepsi tersebut adalah derajat keterlepasannya (tajrid), pada akhirnya Mulla Shadra menyederhanakan tingkatan persepsi ini menjadi 3, yakni indrawi, imajinasi, dan akal. Semakin tinggi tingkatan suatu persepsi maka persepsi tersebut semakin terlepas dari sifat material. 
.
Selaras dengan tingkatan persepsi, wujud juga memiliki 3 tingkatan yaitu alam fisik, alam imajinasi, dan alam akal. Wujud dalam hal ini adalah wujud formal (bentuk) atau maujud. Maujud yang material mengalami perubahan/gerak menyempurna hingga menuju wujud akal. 
.
Ketika jiwa sudah menjadi akal maka saat itu persepsi sudah mencapai pada persepsi akal dan pada saat itu pula wujud akal dapat dipersepsi. Maka pada saat inilah manusia dapat mencapai pengetahuan yang hakiki (irfan), pengetahuan spiritual (malakut), pengetahuan tanda (ayah).
.
Selama jiwa masih menjadi jiwa (belum menjadi akal) aka manifestasi wujud dan persepsi jiwa tersebut masih lemah sehingga apapun yang eksis di dalam jiwa juga masih lemah. Karena kelemahan ini, maka perbuatan dan implikasi yang diperintahkan tetap akan menjadi kelemahan. Dengan kata lain, ketika jiwa belum sampai pada akal, eksistensi pengetahuan bersifat lemah sehingga pengetahuan itu tidak menjadi basis dari gerak jiwa. Dapat dikatakan bahwa pengetahuan belum mewujud dalam jiwa kita. 
.
Ketika jiwa sudah menaiki tingkatan akal, maka pada saat itu pengetahuan mewujud, dimana pengetahuan ini sudah hadir dan sudah menjadi segalanya. Jiwa yang menjadi akal berarti dia menyempurna sebagai keseluruhan dan segala sesuatu dan semakin kuat di dalam kesederhanaannya. Dan segala sesuatu akan hadir mengaktual. 
.
Maka teleologi persepsi atau tujuan akhir persepsi adalah pengetahuan yang mewujud. Yaitu pengetahuan yang mewujud pada jiwa manusia yang menyempurna (akal).
wallahualam bi shawab
Praise be upon you who brings the religion of love, spread the compassion of God, and tell the sweetness of torment.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenali Musuhmu

Haram Sayyidah Fathimah Al Maksumah Zhareeh Imam Khomeini Benarkah kita Husseiniyyah? Refleksi Asyura Oleh:  Mahdiya AzZahra . Bismillahirrahmanirrahim Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad  . Siapakah musuh kita yang sesungguhnya?  Banyak dari kita saat ini saling membenci, mengumpat, melontarkan ujaran kebencian, menyindir, mencibir, bahkan mungkin dengan kata2 yang tidak pantas diucapkan oleh orang yang mengaku beragama, mencelakai, menyakiti, meneror, dsb. Agama berisi syariat yang sesuai dengan jiwa manusia dan mengantarkannya menuju kesempurnaan. . Faktanya, orang2 yang mengaku beragama justru bertolak belakang dari hakikat agama itu sendiri. Darimanakah ini semua berasal? Sesungguhnya apa dan siapa yang kita benci? Kita sebut kelompok lain adalah musuh kita. Marilah kita berpikir kembali benarkah ia musuh kita?  . Apakah ia Syimran (pembunuh Imam Hussein) ataukah ia Yazid (tuannya Syimran) atau justru ia adalah pengikut Imam Hussein. Syimran d...

Kebergantungan pada Keberadaan

https://www.linkedin.com/pulse/from-dust-existence-computing-mind-reality-abid-syed Bismillahirrahmanirrahim Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad Pembahasan ontologi adalah pembahasan tentang wujud (keberadaan). Wujud sebagaimana yang telah sering disebutkan adalah ada. Ada bersifat mandiri karena segala sesuatu di alam ini ada, ada merupakan realitas objektif yang keberadaannya bisa dibuktikan secara ilmiah dan empiris. Dan tidak mungkin segala sesuatu itu tidak ada karena tidak ada sendiri merupakan konsep dan tidak memiliki realitas di alam. Kita tidak bisa menunjuk tidak ada di alam. Maka wujud itu sendiri adalah absolut, karena tidak ada yang bisa membantah keberadaannya. Segala sesuatu di alam ini adalah wujud (ada). Bintang, bulan, matahari, hewan, tumbuhan dan manusia sendiri adalah wujud (ada). Keberadaan kita di alam ini tentu dapat kita buktikan secara ilmiah, maka manusia adalah jelas adanya. Dan ada itu yang kemudian kita indra dan kita persepsi da...

Luka dan Penderitaan

http://pukha.blogspot.co.id/2012/11/foto-penderitaan-rakyat-gaza.html Luka dan Penderitaan Sepanjang hidup Para maksumin terluka dan menderita Dimusuhi, dibunuh, diracun Hidup sangat sederhana, ditawan, diarak Para maksumin memilih untuk terluka dan menderita Luka dan penderitaan itulah yang mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki Lalu apakah luka dan penderitaanku ini adalah pilihan atau terpaksa? Apakah luka dan penderitaanku ini mendekatkanku pada kebahagiaan hakiki atau malah menjauhkannya? Apakah aku siap memilih untuk terluka? Dan apakah aku akan memilih menderita di atas kebahagiaan sesaat?