Langsung ke konten utama

Membangun Kelayakan

http://www.greenwellpoints.com/feasibility-studies/
Apa yang kita upayakan selama hidup kita tentunya akan bermuara pada sebuah tujuan. Dari kita masih kecil hingga dewasa kita selalu memiliki tujuan, dan tujuan itu yang kemudian membangkitkan kita untuk terus mengupayakan. Misal kita belajar akan kita lulus ujian. Lulus ujian adalah tujuan, dan belajar adalah upaya yang kita perjuangkan. Setelah lulus kita akan membuat tujuan baru lagi. Namun, apakah tujuan dari tujuan kita itu sendiri?
Jauh dibalik yang kita sadari, sesungguhnya kita memiliki tujuan suci yaitu membangun kelayakan. Membangun kelayakan terhadap apa yang kita hadapi. Ketika kita ingin mendaftar di sebuah universitas, atau melamar beasiswa, atau melamar pekerjaan, atau bahkan melamar seseoran, kita akan bertanya pada diri kita sendir layak kah aku untuk mendapatkan ini?
Kita akan berjuang mati-matian untuk layak menjadi seorang mahasiswa di universitas ternama. Kita juga akan berjuang untuk layak diterima di sebuah perusahaan besar, juga memperjuangkan agar dapat menerima beasiswa. Kita juga sering menyebut untuk memantaskan diri agar kita pantas di hadapan pasangan kita. Kita akan belajar sains, bahasa, teknik, komputer, dan skill-skill lain untuk menjadi layak.
Namun jauh dari itu sesungguhnya kita sedang mempersiapkan diri untuk  membangun kelayakan di hadapan Allah swt. Layak kah kita untuk meminta ridha Allah? Ilmu yang kita peroleh, sikap yang selalu kita perbaiki tak lain untuk menjadi layak.
Layak kah kita mengaku sebagai umat Nabi? Sanggupkah kita hidup seperti Nabi hingga kita mengatakan bahwa kita adalah umat Nabi yang akan mengikuti semua sunnah Nabi?
Kita harus terus berupaya membangun kelayakan. Kita tidak bisa berhenti terus berusaha dan belajar untuk menjadi layak. Karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah layak. Ketidak layakan kitalah yang membuat kita harus berjuang, karena kita diberi pilihan untuk mencapai maqam yang layak untuk manusia biasa.
Sampai kapan pun kita tidak bisa berhenti membangun kelayakan, karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah layak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menanti Pemimpin Selanjutnya

http://islamidia.com/misteri-kedatangan-nabi-isa-as-dan-imam-mahdi/ Lagi lagi saya akan bawa drama korea. Entah kenapa, tapi drama korea memberikan gambaran yang pas terkait sesuatu yang akan saya bahas. Drama korea yang mengisahkan kehidupan modern tak pernah lepas dari seorang pemilik perusahaan dan pewarisnya. Alur yang tak diragukan lagi yaitu perebutan pewaris perusahaan. Seorang presiden direktur (CEO) yang mendirikan perusahaan adalah seorang ayah yang telah berjuang bertahun-tahun lamanya untuk bisa sukses membangun sebuah perusahaan. Dimulai dari masa-masa sulit yang diselimuti dengan kemisikinan hingga menjadi perusahaan besar yang tak tertandingi. Biasanya cerita ini akan dibumbui dengan konflik tentang cerainya sang ayah atau meninggalnya sang ibu dan tinggal lah sang anak (pewaris) sendirian. Kejadian itu mengakibatkan sang ayah menikah lagi, biasanya dengan janda yang memiliki seorang anak. Akhirnya terdapat dua kandidat pewaris perusahaan yang sama-sama kuat. Se...

Harapan Baru Indonesia

Pemilihan umum kini masih panas untuk dibicarakan, namun saya tidak ingin membahas siapa kandidat atau yang sudah terpilih. Saya ingin membahas tentang masa depan Indonesia setelah adanya pemilu. Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan pilkada Jakarta dengan calon yang sama-sama kuat. Tak bicara personalnya, secara umum kedua paslon adalah orang baik dan jujur yang memiliki kredibilitas di bidangnya masing-masing. Kita tau track record Pak Ahok, juga pak Anies. Dan kehebatan kedua paslon tidak diragukan lagi. Untuk itu, tidak masalah siapa yang terpilih, karena keduanya memiliki kredibilitas untuk menjadi Gubernur. Kesempatan ini bisa dijadikan Pak Ahok untuk memperbaiki provinsi yang lain, karena tujuan dari kedua paslon tidak lain adalah untuk memperbaiki provinsi dengan segala isinya. Saya melihat semua ini adalah pertanda dari masa depan Indonesia yang lebih cerah. Saya meyakini bahwa suatu saat nanti Indonesia bisa mencapai tingkat kesejahteraan yang baik. Ada harapan di set...